Meskipun terdapat banyak alat dan demo AI di Game Developers Conference (GDC) tahun ini, para pengembang sangat skeptis terhadap integrasi AI ke dalam game mereka. Meskipun vendor menggunakan AI generatif untuk tugas-tugas seperti pembuatan NPC dan otomatisasi QA, sentimen di kalangan pembuat game jelas-jelas berpusat pada manusia, dan banyak yang langsung menolak teknologi tersebut.
Kehebohan AI vs. Kenyataan
GDC memamerkan alat AI yang mampu menghasilkan dunia seni piksel dan mengotomatiskan proses QA, bahkan Google DeepMind menghadirkan ruang yang dihasilkan AI yang dapat dimainkan. Namun, kemajuan teknis ini sangat kontras dengan pendapat mereka yang sebenarnya membuat game. Survei GDC baru-baru ini mengungkapkan bahwa 52% responden memandang AI generatif berbahaya bagi industri – peningkatan yang signifikan dari 30% pada tahun 2025 dan 18% pada tahun 2024. Beberapa pengembang secara aktif mencap game mereka sebagai “bebas AI” untuk menarik pasar yang semakin waspada terhadap konten buatan mesin.
Mengapa Pengembang Menolak AI Sekarang
Argumen inti yang menentang AI dalam pengembangan game bukan hanya tentang keterbatasan teknis saja. Pengembang menekankan nilai keahlian manusia sebagai bagian integral dari pengalaman bermain game. Gabriel Paquette dari The Melty Way menyatakan preferensinya terhadap pembangunan yang digerakkan oleh manusia, mempertanyakan mengapa seseorang menggantikan kreativitas manusia dengan algoritma.
Banyak studio indie, seperti Finji (Tunic, Chicory), memandang game mereka sebagai perpanjangan dari sidik jari artistik individu. Salah satu pendiri Adam Saltsman dengan blak-blakan mengatakan studio mereka “sama sekali tidak” akan menggunakan AI generatif, dan memprioritaskan kualitas buatan tangan daripada efisiensi algoritmik. Filosofi ini selaras dengan kekhawatiran yang lebih luas bahwa game yang dihasilkan AI terasa generik, murahan, dan kurang memiliki hubungan emosional yang diharapkan oleh penonton.
Rintangan Hukum dan Praktis
Selain preferensi artistik, ambiguitas hukum juga menyelimuti konten yang dihasilkan AI. Saltsmans menunjukkan kurangnya kerangka hukum yang jelas untuk menjual game buatan AI, yang diperburuk oleh masalah hak cipta atas karya seni yang dihasilkan AI. Bahkan penerbit seperti Panic (Untitled Goose Game) dan Hasbro menghindari AI, karena Hasbro tidak menggunakannya dalam jalur pengembangan video game mereka.
Kekhawatiran Jangka Panjang
Penolakan ini bukan hanya soal estetika atau legalitas. Para pengembang khawatir bahwa ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat menghambat bakat-bakat masa depan. Menggantikan pekerjaan manusia dengan otomatisasi dapat mengurangi jumlah tenaga kerja di industri dan membatasi peluang bagi calon pembuat konten. Tony Howard-Arias dari Black Tabby Games mempertanyakan dari mana datangnya bakat baru jika AI menggantikan peran manusia.
Hubungan Manusia Tetap Penting
Bagi banyak pengembang, membuat game adalah sebuah kerajinan, bukan sekadar tugas. Proses penulisan kode, perancangan level, dan penyempurnaan gameplay dipandang penting untuk inovasi. Menghapus elemen manusia berisiko kehilangan hubungan penting antara pencipta dan pemain. Seperti yang dikatakan Rebekah Saltsman, “Kami menceritakan kisah-kisah manusia… mengapa melakukan hal ini jika tidak ingin terhubung?”
Meskipun beberapa pihak mengakui potensi AI untuk membantu pengembangan di masa depan, konsensus saat ini di kalangan pengembang indie tetap jelas: AI tidak diterima dalam permainan mereka. Untuk saat ini, fokus industri ini tetap pada pelestarian sentuhan manusia yang mendefinisikan seni pembuatan video game.



















