Pencarian akan kacamata pintar yang tidak mencolok terus berlanjut, dan G2 dari Even Realities menawarkan gambaran sekilas tentang apa yang bisa jadi menarik: ringan, sesuai resep, dan dengan masa pakai baterai sepanjang hari. Namun, terlepas dari kelebihannya, G2 saat ini terasa seperti prototipe yang menjanjikan daripada produk yang disempurnakan. Hal ini menunjukkan tantangan yang lebih luas yang dihadapi pasar kacamata pintar – kurangnya standarisasi dan realisasi fungsionalitas sepenuhnya.
Desain dan Kenyamanan: Sebuah Langkah ke Arah yang Benar
Dengan berat 35 gram, Even G2 sangat ringan, lebih menyerupai kacamata standar dibandingkan pesaing seperti kacamata pintar Ray-Ban Meta yang besar. Desainnya mengutamakan kebijaksanaan, dengan sedikit tonjolan di luar bingkai lensa. Yang terpenting, Even Realities mendukung berbagai macam resep (hingga +/-12), sebuah keuntungan besar bagi pemakai yang membutuhkan lensa korektif. Kacamata ini diisi dayanya melalui USB-C dan dilengkapi dengan wadah pengisi daya khusus. Meskipun nyaman untuk waktu singkat, wadah baterai besar di lengan dapat menyebabkan ketidaknyamanan jika dipakai dalam waktu lama.
Fungsionalitas: Saat Janji Memudar
G2 menawarkan sistem layar ganda yang memproyeksikan teks hijau monokrom langsung ke lensa. Layar memudar saat tidak digunakan, menciptakan pengalaman mulus saat melihat dunia nyata. Namun, jarak pandang menjadi terganggu di siang hari yang cerah, dan warna hijau dapat mengganggu. Kacamata ini mengandalkan cincin pintar berpasangan (Even R1) atau kontrol touchpad di lengan untuk navigasi. Masalah konektivitas mengganggu keduanya: cincin sering kehilangan koneksi, dan kontrol panel sentuh sering kali tertutup rambut.
Perangkat lunak Even Realities menyertakan fitur bertenaga AI seperti transkripsi waktu nyata (mode Percakapan) dan terjemahan dalam kacamata. Percakapan dapat mendefinisikan istilah-istilah penting selama percakapan, menawarkan alat pendidikan yang unik namun terbatas. Namun, AI terasa terbelakang dibandingkan dengan model lama seperti ChatGPT. G2 juga dilengkapi mode teleprompter, yang terbukti tidak dapat diandalkan dalam pengujian langsung karena masalah kontrol pada ring R1.
Gambaran Lebih Besar: Kacamata Pintar Masih Dalam Masa Bayi
Even G2 menyoroti kondisi pasar kacamata pintar saat ini: lanskap yang terfragmentasi dan tidak ada standar yang jelas. Meskipun Meta mendominasi berita utama dengan Ray-Ban yang dilengkapi kamera, Even Realities memprioritaskan privasi dan kompatibilitas resep. Kurangnya integrasi dengan ekosistem ponsel pintar mainstream (tidak ada notifikasi, penanganan panggilan, atau pemutaran musik) membatasi kegunaan G2.
G2 bukanlah pengganti jam tangan pintar, dan fitur AI-nya terasa sederhana. Terlepas dari kekurangan ini, kacamata ini menunjukkan bahwa kacamata pintar yang ramping, nyaman, dan fungsional dapat dicapai. Masalahnya bukan pada perangkat kerasnya; integrasi perangkat lunak dan ekosistemlah yang menghambat mereka.
Even Realities G2 adalah gambaran menarik tentang masa depan teknologi wearable, namun belum siap untuk diluncurkan secara perdana. Sampai pengembang menghadirkan aplikasi AI yang lebih kuat dan integrasi ponsel pintar yang lancar, kacamata pintar akan tetap menjadi produk khusus dibandingkan aksesori mainstream.
